BOJONEGORO – Pembangunan infrastruktur jalan melalui Bantuan Keuangan Khusus Desa (BKKD) 2025 di Kabupaten Bojonegoro yang seharusnya menjadi jembatan kemudahan bagi masyarakat, justru berbalik menjadi sumber kecewa dan kekesalan.
Kejadian paling mencolok terjadi di Desa Mori, Kecamatan Trucuk, di mana kejelekan kualitas pembangunan dan ketidakpedulian pemerintah membuat warga terpaksa bertindak mandiri.
Beberapa pekan lalu, media telah membongkar masalah serius pada jalan yang dibangun, seperti (beskos) yang terlalu tipis, (pedel) yang tidak layak, serta kedalaman (stros) yang diduga tidak memenuhi standar teknis.
Kondisi saat ini semakin parah dengan adanya akses alternatif yang dilewati warga jalan rusak parah hingga sulit dilalui kendaraan, namun Pemerintah Desa (PEMDES) seolah menutup mata dan tidak mengambil langkah perbaikan apapun.
“Yang membeli pedel untuk memperbaiki jalan itu bukan PEMDES, tapi kita warga sendiri yang mengeluarkan uang,” tegas seorang warga lokal yang enggan disebutkan namanya, Senin (24/11/2025).
Ironisnya, keluh kesah warga seolah tidak pernah mencapai telinga pemerintah desa. Banyak yang menyebut BKKD bukanlah solusi, melainkan bencana yang justru menambah beban dan kesulitan masyarakat.
Bahkan, janji Camat Trucuk Saad Mujadid untuk menyidik lokasi ketika dikonfirmasi media, ternyata hanya omongan kosong yang tidak terwujud.
Warga kini menantikan instansi terkait segera turun ke lapangan, memverifikasi kenyataan secara langsung, dan memberikan sangsi yang sesuai atas ketidakmampuan serta ketidakpedulian yang terjadi. (Tim)

