BOJONEGORO – Pelaksanaan proyek pembangunan jembatan yang bersumber dari program Bantuan Khusus Keuangan Desa (BKKD) di Desa Semen Pinggir, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, dikabarkan mengalami keterlambatan parah.
Hingga batas waktu yang ditentukan terlampaui, pengerjaan dinilai masih berjalan lambat dengan capaian progres yang belum mencapai separuh target atau masih di bawah 50 persen.
Berdasarkan pantauan di lokasi, kegiatan konstruksi baru menyelesaikan dua tiang pancang jembatan. Hal ini disebut sebagai indikator capaian progres pekerjaan belum mencapai 50 persen.
“Setahu saya kalau tiang pancangnya sudah jadi empat atau lima, itu baru bisa dibilang 50 persen progresnya. Tapi ini baru selesai dua, kan parah terlambatnya,” ujar salah satu sumber yang namanya enggan dipublikasikan, Kamis (9/4/2026).
Selain persoalan waktu yang molor, aspek keamanan dan keselamatan kerja juga menjadi sorotan. Di lokasi proyek terlihat bahwa para pekerja lapangan tidak menerapkan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang seharusnya diwajibkan.
Kondisi ini dinilai sangat memprihatinkan dan berpotensi membahayakan keselamatan para pekerja itu sendiri. Tanpa adanya perlindungan yang memadai, risiko terjadinya kecelakaan kerja maupun insiden yang tidak diinginkan menjadi lebih besar.
Sementara, Kepala Desa Semen Pinggir, Joko Fariyanto saat dikonfirmasi tim awak media tentang perihal diatas, pihaknya belum dapat memberikan penjelasan secara spesifik dikarenakan sedang ada kegiatan.
“Saya ada acara mas enak ketemu biar jelas. Sekarang baru surut mau diboor. Kendala alam hujan,” tulisnya melalui balasan pesan WhatsApp.
Di sisi lain, publik sangat menyayangkan terjadinya hal tersebut dan menduga bahwa keterlambatan yang mengarah pada munculnya adendum adalah tameng untuk menghindari temuan. (TIM)
