Lubuk Basung Rublikanesia – Bawaslu Kabupaten Agam terus menggencarkan pendidikan demokrasi bagi generasi muda melalui program “Kelas Demokrasi” yang digelar di SMA Negeri 2 Lubuk Basung, Rabu (20/05).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat demokrasi substansial melalui pengawasan pemilu yang berintegritas sekaligus membangun kesadaran politik generasi muda sejak dini. Program ini menyasar siswa SMA sederajat sebagai pemilih pemula yang akan menggunakan hak pilihnya pada Pemilu 2029.
Anggota Bawaslu Kabupaten Agam, Yuhendra dalam pemaparannya menjelaskan pentingnya pemahaman tentang hak pilih, bahaya politik uang, black campaign, serta pengawasan partisipatif dalam menjaga kualitas demokrasi.
Menurutnya, siswa kelas XII saat ini rata-rata telah berusia 17 tahun dan memiliki hak pilih. Namun, pihaknya masih menemukan beberapa siswa yang belum melakukan perekaman e-KTP sebagai syarat administrasi kepemiluan.
“Kami ingin memastikan generasi muda tidak hanya menjadi pemilih, tetapi juga memahami proses demokrasi dan ikut mengawasi jalannya pemilu,” ujar Yuhendra.
Dalam kegiatan tersebut, Bawaslu Agam juga melakukan uji petik terhadap sejumlah siswa yang telah membawa e-KTP guna memastikan data mereka telah masuk dalam Data Pemilih Berkelanjutan.

Di kelas lain, Kasubag Pengawasan Mizlin mengingatkan para siswa agar tidak menganggap politik uang sebagai sesuatu yang lumrah dalam pesta demokrasi.
“Gunakan hak pilih dengan bijak. Jangan memilih calon yang memiliki rekam jejak buruk ataupun yang mencoba memengaruhi pilihan dengan uang,” tegasnya.
Sementara itu, Kasubag Humas, Hukum dan Datin Sriwahyuni menjelaskan bahwa praktik politik uang tidak hanya berbentuk uang tunai, tetapi juga dapat berupa sembako, bantuan sosial, hingga top up dompet digital. Ia menegaskan bahwa praktik tersebut merupakan pelanggaran pidana pemilu yang memiliki konsekuensi hukum.

Bawaslu Agam juga menyoroti tantangan demokrasi di era digital. Generasi Z yang aktif di media sosial dinilai rentan terpapar hoaks politik, black campaign, politisasi SARA, hingga pengaruh buzzer politik yang kerap mewarnai kontestasi pemilu beberapa tahun terakhir.
Paparan informasi yang tidak sehat tersebut dinilai dapat memengaruhi kualitas partisipasi politik generasi muda, padahal kelompok usia muda merupakan salah satu komposisi terbesar dalam daftar pemilih.
Ketua Bawaslu Kabupaten Agam, Suhendra menegaskan bahwa program “Kelas Demokrasi” bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan langkah nyata membangun kesadaran politik generasi muda agar tidak menjadi korban manipulasi politik dan praktik demokrasi yang menyimpang.







