BOJONEGORO – Memasuki bulan Maret 2026, beberapa titik pekerjaan yang bersumber dari program Bantuan Keuangan Khusus Desa (BKKD) tahun 2025 di Kabupaten Bojonegoro, belum sepenuhnya terselesaikan sesuai progres.
Bahkan, banyak pihak menyebutkan jika proyek-proyek tersebut saat ini terkesan mangkrak dan jauh dari progres perencanaan awal.
Seperti halnya proyek jembatan BKKD senilai 3.808.442.000,00 di Desa Ngrejeng, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro yang tengah menjadi sorotan publik karena progres pekerjaan yang baru mencapai 30 hingga 40 persen.
Meski alasan faktor cuaca mendominasi sanggahan molornya proyek tersebut, tetapi publik lebih melihat pada fakta di lapangan, dan mempertanyakan perencanaan dari timlaknya.
“Kalau memang terkendala hujan, bagaimana perencanaannya dulu sebelum menentukan pembangunan,” ujar salah satu warga yang enggan dipublikasikan namanya, jSabtu (7/3/2026).
Selain itu, molornya progres pekerjaan juga dinilai menjadi preseden buruk dan berpotensi menjadi celah mark-up yang dapat merugikan negara.
Sementara, Kepala Desa Ngrejeng, Arief Yanuar saat dikonfirmasi awak media tentang perihal diatas, pihaknya mengatakan bahwa untuk desanya pekerjaan tidak mangkrak dan masih berjalan.
“Untuk saat ini masih berjalan, untuk resiko alam memang ada tapi tidak mengurangi rasa semangat membangun, Monggo dikroscek. Untuk anggaran DPAL batas waktu akhir Maret,” jelasnya kepada wartawan.
Di sisi lain, publik kembali berharap, Pemerintah Daerah segera turun tangan dan mengambil sikap seperti di titik pekerjaan BKKD wilayah lainya, sehingga progres pembangunan jembatan bisa segera terselesaikan dan memberi manfaat bagi masyarakat. (TIM)
