Semangat Pejuang Ranah Minang Hidup Kembali di Kader Pengawas Parsipatif Bawaslu Agam”

IMG-20260727-WA0294-scaled.jpg

Lubuk Basung, Rublikanesia— Bawaslu Kabupaten Agam menggelar Pendidikan Pengawas Partisipatif (P2P) Tahun 2026 dengan mengusung tema “Berfungsi dan Bergerak untuk Pemilu 2029 yang Bermartabat”, bertempat di Aula Kantor Bawaslu Kabupaten Agam, Senin (27/7). Kegiatan ini menjadi salah satu upaya Bawaslu memperkuat kapasitas masyarakat sebagai mitra strategis pengawasan, sekaligus membangun kesadaran kolektif untuk mewujudkan penyelenggaraan Pemilu Tahun 2029 yang demokratis, jujur, adil, dan berintegritas.
Kegiatan dibuka oleh Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Hubungan Masyarakat (PPH) Bawaslu Provinsi Sumatera Barat, Muhammad Khadafi, yang hadir langsung di Kantor Bawaslu Kabupaten Agam. Dalam sambutannya, Khadafi menegaskan bahwa pengawasan partisipatif merupakan salah satu strategi penting Bawaslu dalam memperluas jangkauan pengawasan pemilu.
“Keterlibatan masyarakat tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga keutuhan demokrasi,” ujar Khadafi. Ia berharap generasi muda mampu menjadi pelopor dalam membangun budaya pengawasan yang aktif, kritis, dan berkelanjutan.
“Sejarah mencatat, dahulu sebelum republik ini berdiri, penggerak-penggeraknya adalah elemen muda ini. Tahun 1928, Sumpah Pemuda, satu bahasa, satu bangsa, itu dimotori oleh anak-anak muda,” tegasnya.

Api Perjuangan dari Ranah Minang
Pernyataan Khadafi tentang peran pemuda dalam sejarah bangsa itu terasa relevan bila dikaitkan dengan jejak panjang tokoh-tokoh asal Ranah Minang yang telah lebih dulu menorehkan semangat perjuangan, pemikiran, dan integritas dalam membangun republik ini — nilai-nilai yang kini coba dihidupkan kembali melalui gerakan pengawasan partisipatif.
Sebut saja Dr. Mohammad Hatta, putra Bukittinggi yang menjadi Proklamator sekaligus Wakil Presiden pertama Republik Indonesia. Hatta dikenal sebagai sosok yang teguh memegang prinsip kejujuran dan kesederhanaan dalam berpolitik, bahkan rela mengundurkan diri dari jabatan demi mempertahankan integritasnya. Semangat itulah yang hari ini coba ditanamkan Bawaslu kepada kader-kader pengawas partisipatif: bahwa menjaga proses demokrasi berarti menjaga kejujuran di atas segalanya.
Ada pula Rasuna Said, perempuan pejuang asal Maninjau yang tidak jauh dari Lubuk Basung, dikenal sebagai orator ulung yang lantang menyuarakan pendidikan politik bagi kaum perempuan di tengah tekanan kolonial. Keberaniannya menembus ruang publik yang saat itu didominasi laki-laki menjadi inspirasi bagi keterwakilan perempuan dalam gerakan pengawasan partisipatif hari ini, yang secara konsisten mendorong keterlibatan perempuan minimal 30 persen dalam setiap program kaderisasi.
Tokoh lain, Mohammad Natsir, putra Alahan Panjang yang pernah menjabat Perdana Menteri Indonesia, dikenal luas atas Mosi Integralnya yang menyelamatkan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ketegasan Natsir dalam merawat persatuan di tengah perbedaan menjadi cermin pentingnya peran pengawas Pemilu menjaga proses demokrasi tetap satu arah menuju keadilan bagi semua pihak, tanpa terpecah oleh politisasi identitas.
Yang tak kalah membanggakan, justru datang dari tanah Agam sendiri: Siti Manggopoh, perempuan pejuang asal Nagari Manggopoh, Kecamatan Lubuk Basung, yang pada tahun 1908 memimpin perlawanan rakyat terhadap kebijakan pajak kolonial Belanda. Keberaniannya memimpin perjuangan di kampung halaman sendiri menjadi bukti nyata bahwa anak nagari Agam sejak lama telah memiliki tradisi kepedulian dan keberanian menjaga kepentingan bersama — nilai yang kini diwariskan kepada kader pengawas partisipatif Kabupaten Agam untuk berani bersuara dan bertindak demi Pemilu yang bersih.
Rentetan nama-nama ini, bersama tokoh bangsa lain sezamannya, menegaskan bahwa Ranah Minang bukan sekadar penonton dalam sejarah perjuangan kemerdekaan, melainkan salah satu sumber api semangatnya. Warisan itulah yang oleh Bawaslu Kabupaten Agam coba disalurkan kembali kepada generasi muda hari ini, agar semangat patriotisme para pendahulu tidak berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi hidup dalam bentuk baru: kepedulian mengawal demokrasi dan Pemilu yang berintegritas.
Khadafi menambahkan, semangat perjuangan tersebut harus terus diwariskan dalam kehidupan demokrasi saat ini. Menurutnya, pemuda memiliki energi, idealisme, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang dapat menjadi kekuatan besar dalam mengawal penyelenggaraan pemilu. Melalui Pendidikan Pengawas Partisipatif, Bawaslu berharap lahir kader-kader pengawas partisipatif yang mampu menjadi agen edukasi, pencegahan, sekaligus penggerak budaya demokrasi di lingkungan masing-masing.
Diikuti Peserta Muda dari Berbagai Unsur
Kegiatan tersebut turut diikuti oleh seluruh Anggota Bawaslu Kabupaten Agam yang sekaligus menjadi narasumber, Kepala Sekretariat, para Kepala Subbagian, serta jajaran Sekretariat Bawaslu Kabupaten Agam, bersama 24 orang peserta Pendidikan Pengawas Partisipatif yang berasal dari berbagai unsur masyarakat. Pada tahun ini, mayoritas peserta merupakan generasi muda yang diharapkan menjadi motor penggerak pengawasan partisipatif menuju Pemilu Tahun 2029.

Selama pelaksanaan kegiatan, peserta memperoleh materi penguatan mengenai strategi peran pengawasan partisipatif, nilai-nilai demokrasi, pencegahan pelanggaran pemilu, penyelesaian sengketa proses pemilu, serta pentingnya membangun kolaborasi antara penyelenggara pemilu dan masyarakat dalam mengawal setiap tahapan Pemilu.
Sesi diskusi yang digawangi Mizlin dan Sriwahyuni berlangsung hangat dan interaktif. Peserta menyampaikan berbagai pertanyaan dan pandangan terkait tantangan pengawasan pemilu di era digital, penyelesaian sengketa proses pemilu, penanganan dugaan pelanggaran, hingga strategi meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengawasan setiap tahapan Pemilu. Antusiasme peserta menunjukkan tingginya kepedulian generasi muda terhadap penguatan demokrasi dan pentingnya penyelenggaraan Pemilu yang berintegritas.
Kepala Sekretariat Bawaslu Agam, Yuli Zamra, melalui Kepala Subbagian Pengawasan Mizlin H, menegaskan komitmen Bawaslu Agam untuk terus memperluas gerakan pengawasan partisipatif melalui pendidikan politik dan penguatan kapasitas masyarakat. Ia berharap para peserta tidak hanya memperoleh pemahaman selama mengikuti kegiatan, tetapi juga mampu menjadi mitra strategis Bawaslu dalam menyebarkan nilai-nilai demokrasi, mendorong pencegahan pelanggaran, serta mengawal terwujudnya Pemilu Tahun 2029 yang berdampak dan berintegritas — meneruskan jejak para pendahulu dari Ranah Minang yang telah lebih dulu membuktikan bahwa keberanian dan kejujuran anak negeri mampu mengubah arah sejarah bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

scroll to top